Dalam sebuah buku “Menggagas Pendidikan Rakyat” yg diberi pengantar oleh Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc. Ed dan Dadang S. Anshori sebagai Kompilator/Editor, saya membaca sebuah bahasan dengan judul “Dialog dan Potret Kebudayaan Kita” (Eros Djarot), dalam bahasan itu terdapat sebuah cuplikan illustrator seperti berikut:
Pada perayaan ulang tahun ke-17 seorang anak ditanya oleh bapaknya, “Mau hadiah apa untuk ulang tahunmu, Nak?”. Setelah berpikir sejenak, sang anak menjawab, “Kali ini, saya minta hadiah dialog saja”. Mendengar jawaban sang anak, sang bapak terperanjat “Lho, ko dialog. Mbok ya sepatu, baju, atau apalah.”
Sang anak menjawab : Sepatu, Baju, dan yang lainnya sudah banyak pak, yang saya belum punya hanyalah dialog.” Dengan permintaan serius dari anaknya ini, membuat bapaknya menjadi bingung, dan menjawab dengan nada ketus “Minta ko yang aneh-aneh!.” Melihat bapaknya kebingungan, sang anak hanya bisa memandang wajah bapaknya dengan heran dan terkesima, dia tak habis pikir, mengapa permintaan yang baginya begitu sederhana telah membuat bapaknya tergagap-gagap. Sementara itu, sang bapak memandangi wajah anaknya dengan penuh tanya dalam hatinya, “Dialog? Dimana harus membelinya?”…
Pada perayaan ulang tahun ke-17 seorang anak ditanya oleh bapaknya, “Mau hadiah apa untuk ulang tahunmu, Nak?”. Setelah berpikir sejenak, sang anak menjawab, “Kali ini, saya minta hadiah dialog saja”. Mendengar jawaban sang anak, sang bapak terperanjat “Lho, ko dialog. Mbok ya sepatu, baju, atau apalah.”
Sang anak menjawab : Sepatu, Baju, dan yang lainnya sudah banyak pak, yang saya belum punya hanyalah dialog.” Dengan permintaan serius dari anaknya ini, membuat bapaknya menjadi bingung, dan menjawab dengan nada ketus “Minta ko yang aneh-aneh!.” Melihat bapaknya kebingungan, sang anak hanya bisa memandang wajah bapaknya dengan heran dan terkesima, dia tak habis pikir, mengapa permintaan yang baginya begitu sederhana telah membuat bapaknya tergagap-gagap. Sementara itu, sang bapak memandangi wajah anaknya dengan penuh tanya dalam hatinya, “Dialog? Dimana harus membelinya?”…